Semua manusia ciptaan tuhan akan
merasakan betapa indahnya cinta. Betapa manisnya ketika seseorang mengalami
pada saat-saat jatuh cinta. Manusia selalu berharap bahwa hidupnya selalu
dipenuhi dengan cinta, agar ia tumbuh dan bertahan lebih lama dalam kehidupannya.
Ada perasaan yang mengganjal didalam jiwa ketika membahas tentang cinta.
Bagaimanakah awal mula perjalanan cinta sejak manusia diciptakan?
Hamba yang dimuliakan itu ditempatkan Allah SWT di dalam Surga (Jannah). Adam
a.s hidup sendirian dan sebatang kara, tanpa mempunyai seorang kawan pun. Ia
berjalan ke kiri dan ke kanan, menghadap ke langit-langit yang tinggi, ke bumi
terhampar jauh di seberang, maka tiada sesuatu yang dilihatnya dari mahkluk
sejenisnya kecuali burung-burung yang berterbangan kesana kemari, sambil
berkejar-kejaran di angkasa bebas, bernyanyi-nyanyi, bersiul-siul, seolah-olah
mempamerkan kemesraan. Adam a.s terpikat melihatnya, rindu berkeadaan demikian.
Tetapi sungguh malang, siapalah gerangan kawan yang hendak diajak. Ia merasa
kesepian, lama sudah. Ia tinggal di surga bagai orang kebingungan, tiada
pasangan yang akan dibujuk bermesra sebagaimana burung-burung yang dilihatnya.
Tiada pekerjaan sehari-hari kecuali bermalas-malas begitu saja, bersantai berangin-angin
di dalam taman surga yang indah permai, yang ditumbuhi oleh bermacam
bunga-bunga kuntum semerbak yang wangi, yang di bawahnya mengalir anak-anak
sungai bercabang-cabang, yang desiran airnya bagai mengandung pembangkit rindu.
Apa saja di dalam surga semuanya nikmat! Tetapi apalah arti segalanya kalau
hati selalu gelisah resah di dalam kesepian seorang diri? Itulah satu-satunya
kekurangan yang dirasakan Adam a.s di dalam surga. Ia sangat membutuhkan
sesuatu, kepada kawan sejenis yang akan mendampinginya di dalam kesenangan yang
tak terhingga itu. Kadangkala kalau rindu dendamnya datang, turunlah ia ke
bawah pohon-pohon rendang mencari hiburan, mendengarkan burung-burung bernyanyi
bersahut-sahutan, tetapi aduh hai kasihan. Bukannya hati menjadi tenteram,
malah menjadi lebih tertikam. Kalau angin bertiup sepoi-sepoi basah dimana
daun-daunan bergerak lemah gemalai dan mendesirkan suara sayup-sayup, maka
terkesanlah di hatinya keharuan yang begitu mendalam, dirasakannya sebagai
derita batin yang tegak dibalik nikmat yang Tuhan anugerahkan kepadanya.
Walaupun demikian derita batin yang dirasakan, sepertinya Adam a.s malu
mengadukan halnya kepada Allah SWT. Namun, walau Adam a.s malu untuk mengadu,
Allah swt sendiri Maha Mengetahui serta Maha Melihat apa yang tersembunyi didalam
jiwa hamba-Nya. Oleh sebab itu, Allah ingin mengusir rasa kesepian Adam.
Pada saat Nabi Adam a.s berada dipuncak kerinduan dan kebutuhan terhadap
seorang teman, sedang ia lagi duduk terpukur di atas tempat duduk yang
berlapiskan tilam permaidani serba mewah, maka tiba-tiba ngantukpun datang menghampirinya
serta langsung membawanya hanyut ke alam tidur. Adam a.s tertidur sangat pulas,
sehingga tidak sadar apa yang sedang terjadi disekitarnya. Pada saat demikian
itulah Allah SWT menyampaikan wahyu kepada malaikat Jibril a.s untuk mencabut
tulang rusuk Adam a.s dari lambung sebelah kiri. Bagai orang yang sedang
terbius, Adam a.s tidak merasakan apa-apa ketika tulang rusuknya dicabut
oleh malaikat Jibril a.s. Dan karena kekuasaan Allahlah yang apabila
menghendaki terjadinya sesuatu cukup berkata “Kun” maka terciptalah Hawa dari
tulang rusuk Adam a.s, sebagai insan kedua penghuni syurga dan sebagai
pelengkap kurnia yang dianugerahkan kepada Adam a.s yang mendambakan seorang teman
tempat ia boleh bermesra dan bersenda gurau.
Hawa duduk bersandar pada bantal lembut di atas tempat duduk megah yang
bertatahkan emas dan permata-permata bermutu, sambil terpesona memperhatikan
kecerahan wajah dari seorang lelaki gagah yang sedang terbaring tak jauh di
depannya. Butir-butir pikiran yang menggelombang di dalam sanubari Hawa
seolah-olah merupakan arus-arus tenaga elektrik yang datang mengetuk jiwa Adam
yang langsung menerimanya sebagai mimpi yang berkesan di dalam gambaran jiwanya
seketika itu.
Adam pun terjaga! Alangkah terkejutnya ia ketika dilihatnya ada makhluk
manusia seperti dirinya hanya beberapa langkah di hadapannya. Ia seolah tak
percaya pada penglihatannya. Ia masih terbaring mengusap matanya beberapa kali
untuk memastikan apa yang sedang dilihatnya. Hawa yang diciptakan lengkap
dengan perasaan malu, segera memutar badannya sekadar untuk menyembunyikan
bukit-bukit di dadanya, seraya mengirimkan senyum manis bercampur manja,
diiringi pandangan melirik dari sudut mata yang memberikan sinar harapan bagi
hati yang melihatnya. Memang dijadikan Hawa dengan bentuk dan paras rupa yang
sempurna. Ia dihiasi dengan kecantikan, kemanisan, keindahan, kejelitaan,
kehalusan, kelemah-lembutan, kasih-sayang, kesucian, keibuan dan segala
sifat-sifat keperibadian yang terpuji di samping bentuk tubuhnya yang mempesona
serta memikat hati setiap yang memandangnya. Ia adalah wanita tercantik yang
menghiasai surga, yang kecantikannya itu akan diwariskan turun temurun di hari
kemudian. Kecantikan yang dimiliki wanita sekarang tiada lain hanyalah turunan
daripada Siti Hawa.
Adam a.s pun tidak kalah gagah dan tampannya. Tidak dijumpai cacat pada
dirinya. Karena ialah satu-satunya manusia yang diciptakan Allah SWT secara
langsung tanpa perantara. Semua ketampanan yang dimiliki lelaki berawal darinya.
Ketampanan itu pulalah yang diwariskan turun-temurun kepada turunannya sebagai
anugerah Allah SWT kepada manusia. Bahkan diriwayatkan bahawa kelak semua
penduduk surga akan dibangkitkan dengan pantulan dari cahaya rupa Adam. Adam pun
bangkit dari tempat tidurnya, lalu memperbaiki duduknya. Ia membuka matanya, melihat
dengan mata yang tajam. Ia sadar bahwa orang asing di depannya itu bukanlah
bayangan atau ilusi, namun benar-benar suatu fakta dari wujud manusia yang memiliki
bentuk fisik seperti dirinya. Ia yakin ia tidak salah pandang. Ia tahu itu
seorang manusia yang mirip dengannya, perbedaannya hanya pada jenis kelamin. Sang
Nabi yang sudah sangat merindukan pendampingnya menarik kesimpulan bahwa seorang
di depannya adalah perempuan. Ia merasa bersukur bahwa calon temannya sudah
dihadapannya. Hatinya sangat gembira, bersyukur, serta memuji Allah yang maha
kuasa. Nabi Adam pun tersenyum tersipu-sipu kepada sang gadis didepannya.
Melihat seorang gadis yang sangat cantik jelita dihadapannya, jiwanya Adam pun
tertarik pada hawa. Ia tidak bisa membayangkan betap indahnya wanita
dihadapannya. Lalu Tuhan menanamkan rasa cinta dan kasih sayang begitu dalam di
hati sanubari Adam a.s serta menjadikannya orang yang telah terlena dengan cinta,
tiada bandingannya dalam sejarah, yaitu kisah cinta dua manusia di dalam surga.
Adam ditakdirkan jatuh cinta kepada puteri yang paling cantik dari segala yang
cantik, yang paling jelita dari segala yang jelita, dan yang paling harum dari
segala yang harum. Itulah cinta pertama dalam sejarah umat manusia.
Hidup begitu hambar rasanya bila
tanpa cinta. Pemandangan yang indah, tempat yang mewah, serta harta benda yang
berharga semua rasanya tiada tanpa kehadiran seorang belahan jiwa. Bagaikan buah yang kandungan
gulanya rendah dengan kadar air tinggi akan terasa hambar. Bila kadar gula dan
kandungan asamnya seimbang rasanya menjadi manis-manis asam. Jika kandungan
asamnya lebih tinggi rasanyapun menjadi asam. Bila buah mengandung tanin lebih
banyak akan terasa kesat kalau dimakan. Atau seperti syair pujangga cinta;
“Hidup tanpa Cinta, Bagai taman tak berbunga”.
Zaman sekarang berbagai kata-kata
dan syair anak muda yang tidak berlaku adil terhadap seorang wanita. Tidak
sewajarnya dilontarkan atau dinyanyikan. Padahal lelaki dan wanita sama-sama
saling membutuhkan. Seperti, “wanita racun dunia”, adalah syair yang sangat
menyakitkan bagi seorang wanita. Sebab wanita hadir bukan karena keinginan
pribadinya tetapi karena keinginan para lelaki. Seorang wanita hadir kedunia
karena kehendak manusia pertama, yaitu adam. Lelaki sangat membutuhkan wanita,
dan wanita hadir karena ingin memenuhi kebutuhan lelaki. Kedua-duanya harus
saling melengkapi dan memenuhi. Seorang pria harus menjaga kebutuhannya agar
tetap baik, sebaliknya seorang wanita harus memenuhi kepada yang membutuhkannya
dengan baik pula. Agar tercipta kedamaian. Demikianlah awal mula perjalanan
kisah cinta manusia pertama di ciptakan Allah. Tanpa cinta sungguh hidup terasa
sangat membosankan dan sangat menjenuhkan. Hiduplah dengan cinta agar kamu
matipun penuh dengan cinta. Sebab walau jasadmu telah tiada, namun jiwamu masih
tetap ada dijiwa para pencintanya.

Komentar
Posting Komentar