Tulisan
ini merupakan sebuah analisis terhadap esensi pendidikan di Indonesia. Dimana
pendidikan saat ini menjadi pertanyaan bagi saya pribadi, sejauh manakah hasil
yang diperoleh ketika mengikuti pendidikan formal di Indonesia. Apakah pendidikan
indonesia saat ini hanya untuk mempersiapkan diri untuk menjadi pekerja atau
hanya mempersiapkan diri untuk membuka lowongan kerja? Kemudian bagaimanakah
yang dimaksud pendidikan di Indonesia?
Masih
banyak lagi sebenarnya pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari dalam diri
pribadi penulis tentang seputar pendidikan di Indonesia. Kekhawatiran ini
timbul disebabkan setiap tahun semakin meningkatnya lulusan SMA dan Perguruan
Tinggi di Indonesia menjadi pengangguran. Jika pendidikan di Indonesia lebih
banyak melahirkan pengangguran daripada yang menjadi pekerja, maka esensi
pendidikan indonesia menjadi pertanyaan besar. Hanya sebatas
itukah kemampuan pendidikan formal indonesia? Dan kalau seperti ini jadinya,
setiap tahun lulusan SMA dan Perguruan Tinggi semakin bertambah, berarti
pendidikan yang dilaksanakan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi selama ini
semuanya menjadi sia-sia atau pendidikan gagal.
Penulis
pernah mengikuti sebuah pelatihan yang diadakan oleh Dinas Koperasi dan UMKM
Sumatera Utara tentang peran KOPPONTREN (Koperasi Pondok Pesantren) dalam
peningkatan kualitas pendidikan dipesantren. Salah satu hal yang paling menarik
buat penulis adalah tentang angka pengangguran para lulusan SMA dan Perguruan
Tinggi setiap tahun terus bertambah. Dan pengangguran ini
adalah penyakit yang paling berbahaya bagi suatu bangsa. Jika pengangguran di
indonesia setiap tahun bertambah dan pemerintah membiarkan angkanya meningkat, maka akan terjadi yang namanya, kejahatan, pencurian,
pemerkosaan dan perjinahan atau menjual diri untuk mendapatkan uang. Sebenarnya
pengangguran ini bukan hanya terjangkit di Negara Kesatuan Republik Indonesia tetapi disetiap negara-bangsa, pengangguran menjadi penyakit yang paling
berbahaya bagi pemerintah sendiri. dan saat ini kita bukan berbicara negara lain, tapi kita berbicara indonesia.
Sejarah
telah membuktikan bahwa pendidikanlah yang sebenarnya menjadi tolak ukur bagi
kebangkitan sebuah bangsa yang maju dan berkembang. Arab saudi sudah
menjadi saksi bisu, dimana pendidikan kurang efektif dilaksanakan yang akhirnya
negara tersebut dikuasai oleh negara lain, Mesir juga seperti itu pendidikannya
pada zaman dahulu juga selalu terbelakang dan akhirnya negara lain berkuasa di
mesir. Eropa juga pernah mengalami keterbelakangan pendidikan, sebab itu 1000
tahun lamanya eropa mengalami keterpurukan atau kegelapan, seperti istilah yang
kita kenal saat itu The Dark Europe (Eropa Gelap). Begitu juga dengan di indonesia
ketika dijajah oleh kolonial Belanda selama kurang lebih 3 abad lamanya. pendidikan indonesia belum efektif dilaksanakan pada saat itu. Dan
masih banyak lagi cerita tentang bangsa yang terbelakang disebabkan pendidikan
bangsanya yang kurang diperhatikan oleh pemerintahnya. Saya menjadi teringat
seperti yang disampaikan oleh menteri pendidikan jepang, beliau menyebutkan
bahwa kita lebih baik memiliki manusia yang berkualitas dari pada Sumber Daya
Alam (SDA) yang subur. Sebab, manusia yang berkualitas bisa mewujudkan apa saja
yang menjadi keinginannya, dibanding SDA nya yang baik tapi tidak memiliki
manusia yang mampu mengelola SDA tersebut.[1]
Pendidikan
Indonesia saat ini mengalami stagnan, tidak dinamis. Sehingga lulusan sekolah
dan perguruan tinggi tidak mendapatkan tempat yang sesuai dengan kebutuhan
jurusan mereka. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan
pengangguran, kemudian sumber daya manusia yang tidak berkapasitas disebabkan
oleh metode dan tujuan pembelajaran pada praktek kehidupan sehari-harinya.
Pendidikan indonesia seolah-olah hanya seperti sebatas air yang mengalir saja,
pemerintah kurang memperhatikan tujuan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan
zaman. Pemerintah hanya sebatas menambah anggaran pendidikan menjadi 20%,
setelah itu tindak lanjutnya tidak ada. Jikalau kita melihat antara penambahan
anggaran pendidikan atau tidak ada penambahan pada prakteknya dilapangan sama
saja, tidak ada perbedaan yang signifikan dari yang diharapkan oleh masyarakat
dan pemerintah. Dan jikalau kita memperhatikan bahwa penambahan anggaran
pendidikan 20% itu hanya dapat dirasakan oleh sepihak bukan universal atau
menyeluruh, yaitu oleh guru dan instansi yang terkait dengan tenaga
kependidikan. Para siswa dan mahasiswa yang menjadi tumbal dalam dunia
pendidikan, pada umumnya mereka tidak mendapatkan perubahan yang signifikan
atau pendidikan yang lebih baik sebelumnya. Inilah kejahatan-kejahatan yang
terorganisir dengan baik, karena jika ada diantara para siswa dan mahasiswa
melakukan protes atau demonstrasi kepada kepala sekolah atau rektor mereka akan
mendapatkan hukuman atau sanksi dari guru atau dosen mereka.[2]
Sedih
memang jika melihat kondisi instansi pendidikan yang seperti ini, inilah salah
satu ancaman pendidikan bagi para generasi muda indonesia saat ini. Mereka
seolah terpaksa untuk mengikuti proses pembelajaran formal yang diadakan oleh
pemerintah, dimana pendidikan formal yang dilakukan di sekolah-sekolah atau
perguruan tinggi sebenarnya belum sesuai dengan kebutuhan zaman atau tuntutan
global. Belum lagi tentang masalah keterlambatan pencetakan dan pendistribusian
kedaerah-daerah yang tidak efektif dalam hal soal Ujian Nasional tingkat SMA
dan SMP, inilah juga termasuk hal yang paling memalukan. Seharusnya pemerintah
harus mempunyai perhatian khusus untuk dunia pendidikan hari ini supaya tidak
terjadi carut-marut lagi dunia pendidikan di Indonesia. Pemerintah akhir-akhir
ini lebih banyak memperhatikan masalah-masalah eksternal bangsa ini daripada
masalah internalnya sendiri, padahal permasalahan internal lebih penting
terlebih dahulu untuk diselesaikan daripada permasalahan eksternal. Contohnya
seperti kunjungan ke luar negeri, acara pertemuan antar bangsa dan sebagainya.
Ini memang penting, tapi bagaimana dan apa yang ingin kita sampaikan
kemasyarakat internasional sedangkan permasalahan internalnya saja belum
selesai. Apakah kita harus berbohong kemasyarakat internasional bahwa indonesia
sangat baik, masyarakatnya makmur dan sejahtera, akan tetapi realitanya tidak
sesuai dengan apa yang disampaikan.[3]
Sangat
ironis hari ini melihat pendidikan indonesia. Kita melihat banyaknya
ancaman-ancaman pendidikan bagi masyarakat indonesia khususnya, dimana mereka
mengalami dilema besar, sebab bagi mereka sekolah atau tidak sekolah yang
penting adalah bekerja dan mempunyai uang yang banyak. Masyarakat kecil atau
pedesaan akan berpikir, percuma sekolah kita tinggi, jauh di kota yang pada
akhirnya kembali ke desa dan kerja sesuai dengan pekerjaan masyarakat biasanya
atau yang tidak sekolah. Jikalau hal ini dibiarkan terus berlanjut maka akan
terjadi kegalauan dalam dunia pendidikan. Galau karena banyak hal yang harus
dipikirkan dan dikerjakan, dan kegalauan ini sangat sulit untuk dihilangkan
sehingga masyarakat benar-benar giat dalam mengikuti pendidikan. Kalau peran
pendidikan formal kurang dalam mengurangi masyarakat miskin atau pengangguran, maka
sesungguhnya pendidikan formal ditiadakan dan efektifnya pendidikan non formal
dilaksanakan dan informal karena ini sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Kita
bukan pesimis melihat bangsa ini akan berkembang dan maju, kita tetap yakin
karena bangsa yang maju dan berkembang adalah bangsa yang bertahan dan sabar
untuk melewati setiap permasalahan bangsanya. Namun yang menjadi permasalahan,
kapankah masalahnya akan berakhir terutama masalah pendidikannya?
Masih
banyak lagi ancaman-ancaman pendidikan indonesia yang belum bisa disebutkan
bagi masyarakat, bukan untuk mencari kesalahan-kesalahan namun hanya sebatas
untuk sebagai modal untuk perbaikan masa depan pendidikan indonesia yang kita
cintai ini. Seperti yang sudah saya sebutkan diatas jika ancaman-ancaman ini
dilewatkan begitu saja tanpa ada sikap kritis yang kita lakukan, yakinlah
anak-anak kita nanti akan merasakan seperti yang kita rasakan saat ini.
Penulis:
Mangaraja
Halongonan Hrp, S.Pdi
Komentar
Posting Komentar