Adakah cinta pendusta?



Kadang sering berpikir, apakah  seorang pencinta itu kejam, kenapa seorang pencinta itu rela menyakiti kekasihnya, apa yang sedang membuat cinta menjadi dibenci oleh semua orang. Kenapa seseorang bisa trauma dengan sesuatu benda yang membuat dirinya menjadi sakit. Lemah dan tak berdaya. Bagai busa yang besar tapi isinya kosong. Perihal seperti ini sering terjadi dalam kehidupan seseorang yang saling mencinta. Pada awalnya begitu ia sangat mencintainya tapi di lain waktu ia telah dan sangat membencinya. Entah apa yang menyebabkan perilaku manusia berbuat seperti itu. Dengan balasan yang sangat melebihi sebelum ia mengenalnya. Seperti cintanya Lady Diana dengan Pangeran Charles. Semua orang membenci Sang Pangeran, sebab ia menyia-nyiakan cintanya Sang Putri. Padahal Putri Lady Diana terkenal kecantikannya seperti sebuah boneka. Semua mata apabila meliriknya seolah tak percaya dengan kecantikannya tersebut.
Cinta adalah suatu anugerah terindah yang diberikan sang pencipta kepada manusia. Cinta yang juga diiiringi dengan kasih sayang. Mencintai tidak bisa dipisahkan dengan mengasihi dan menyayangi. Mengasihi dan menyayangi bagian dari tubuh mencintai. Pada umumnya mencintai sesungguhnya melahirkan kebaikan dan kebaikan, bukan kejahatan. Tidak ada seorang pencinta yang kejam. Tidak ada sang pencinta yang sering berdusta. Cinta sesungguhnya jauh dari sifat-sifat dosa dan dosa. Cinta adalah suatu hal yang sangat suci lagi putih. Ia tidak bisa dinodai seperti dari putih menjadi hitam. Cinta tetaplah cinta. Jika ia ternodai, berarti bukan cinta lagi yang mengisi jiwanya tetapi nafsu syahwat lah yang menghiasinya. Nafsu syahwat selalu membuat seseorang menjadi bengis dan kejam. Membenci, mencaci-maki, memfitnah sesungguhnya lahir dari nafsu syahwat. Hati-hati dengan seseorang yang jiwanya telah terlukai dengan nafsu syahwat. Jiwa yang dikuasai nafsu syahwat sesungguhnya bukan bagian dari sifat dasar dari naluri manusia. Itu sudah menjadi bagian dari keluarga iblis atau setan. Karena sesungguhnya iblis tidak pernah senang dengan manusia. Ia selalu merencanakan agar sesama manusia melakukan pertumpahan darah. Saling membenci dan saling memusuhi. Inilah yang menjadi cita-cita dan harapan para iblis diturunkan kepermukaan bumi. Semua ini berawal dari kelebihan manusia ketika diciptakan oleh Allah.
Ketika proses penciptaan manusia selesai, Nabi Adam bangkit dan ia diajarkan oleh Allah segala sesuatu hal nama-nama benda yang ada. Kemudian para malaikat dan iblis diperintahkan oleh Allah untuk memberikan hormat pada Nabi Adam. Beginilah ayat tentang percakapan Allah terhadap para Malaikat dan Iblis;
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (2:34)
Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (7:12)
Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. (7:14)
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, (7:16)
Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (15:39)
Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil”. (17:62)
Ayat-ayat Allah begitu jelas. Ia tinggalkan Al-Quran untuk hambanya agar tidak mudah tertipu dan tergoda oleh rayuan iblis. Sesungguhnya dusta jelas asalnya. Sombong dan takaburlah yang mengawalinya. Seseorang yang menjadi pembenci, jiwanya telah dirasuki sifat-sifat buruk dari iblis. Ia terpengaruh oleh godaan dan rayuan setan. Nafsu dan syahwatlah yang menjadi ujung tombaknya. Seseorang yang tidak bisa mengalihkan energi nafsu syahwat yang Allah ciptakan untuk manusia ia akan mudah dirasuki oleh iblis. Ia akan semakin tenggelam dalam kegelapan. Masa depannya akan sirna. Sehingga semua cita-cita dan harapannya menjadi pupus. Dan sesungguhnya apa yang diinginkan oleh iblis telah tercapai. Ketika ia membujuk Adam dan Hawa untuk memakan buah Pohon Khuldi (keabadian) di Surga. Sebelumnya Allah telah berfirman bahwa iblis adalah musuh bagi manusia dan menetapkan aturan bahwa Adam dan Istrinya tidak boleh memakan buah Pohon tersebut, ayatnya yang berbunyi;
Maka Kami berkata: "Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. (20: 117)
Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya (surga) dan tidak akan telanjang, (20: 118)
dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya." (20: 119)
Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi (keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (20: 120)
Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. (20: 121)
Begitu jelas permusuhan manusia dengan iblis. Selamanya tidak akan bisa menyatu. Iblis diciptakan dari api yang menandakan simbol keburukan. Dan manusia diciptakan dari tanah, sebagai bukti tanda penuh kecintaan. Ingatlah kebaikan selalu mengalahkan keburukan. Cinta dan dusta adalah  dua hal yang sangat jelas berbeda. Cinta berada dalam diri manusia. Sedangkan dusta berada dalam diri iblis yang merasuki jiwa-jiwa manusia yang lemah. Keburukan-keburukan yang sering terjadi dalam hidup, sesunguhnya membuat diri kita tenggelam dan hilang dari hadapan manusia. Kebencian membawa kita kedalam perangkap iblis dan membawanya kedalam neraka. Sebagai manusia makhluk Allah yang paling mulia, sudah seharusnya menanamkan rasa cinta yang paling dalam dihati nya. Cinta yang dititipkan allah bagi manusia. Cinta yang seharusnya dijaga, dirawat dan ditumbuhkan agar ia bersemi sesuai dengan keinginan ilahi. Tidak ada lagi jiwa-jiwa yang tersakiti. Tidak ada lagi kebencian terhadap sesuatu benda yang Allah ciptakan.
Begitulah sebenarnya dunia seorang manusia. Naluri manusia pada dasarnya adalah keindahan, kebahagiaan dan kesenangan. Naluri yang penuh dengan kecintaan, kecintaan yang membuat seorang menjadi manja dihadapan pencintanya. Sifat kekanakannya akan segera muncul seiring dengan kasih dan sayang dari seorang kekasihnya. Seorang pencinta tidak pernah rela melihat yang dicintanya merasa terluka, merasa tersiksa. Semaksimal mungkin usaha yang segera dilakukannya untuk kebaikan pujaan hatinya. Mencintai kekasihnya ibarat mengalihkan separuh hidupnya kepada sang kekasih tersebut. Kalau begitu cintanya, apakah adalagi yang namanya kebencian. Adalagi pertengkaran atau pertumpahan darah. Semua sifat-sifat buruk tersebut seketika sirna dari kehidupan kita. Orang yang merasakan cinta dan orang yang menanamkan cinta sehingga menjadi prinsip utama dalam hidupnya. Seseorang tersebut menjadi penyayang dan pengasih kepada manusia yang sedang membutuhkan pertolongan. Sebab ia akan cepat merasa iba, bagaimana seandainya hidupnya, kekasihnya serta keluarganya merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang sedang hidup kesusahan tersebut. Sesungguhnya cinta bersatu dalam kebaikan serta berpisah dengan keburukan. Jika ada seseorang yang mengatasnamakan cinta, tetapi ia selingkuh, jiwanya telah dirasuki sifat-sifat iblis. Hindarilah orang-orang yang sering memuja bentuk keindahanmu, karena ia hanya akan memiliki keindahanmu bukan memiliki jiwamu. Sehingga engkau tidak salah tafsir tentang cinta. Dan agar engkau tidak menyalahkan seutuhnya kepada cinta. Karena bukan cinta yang hadir disitu. Tapi dustalah yang sedang hadir diantara kalian. 

Komentar